Sedulur Papat Lima Pancer Menurut Buddha

Sedulur Papat Lima Pancer Menurut Buddha
Sekarang kita bahas sedulur papat limo pancer dalam pandangan buddha, sedulur papat limo pancer menurut buddha, sedulur papat limo pancer dalam pandangan buddha, sedulur papat limo pancer dalam ajaran buddha. Dalam tradisi Jawa mengenal sebuah tradisi spiritual terkait dengan Sedulur Papat, sedang tradisi Bali, mengenalnya dengan nama Kanda Pat. Sedulur Papat bermakna Empat Saudara Kembar, yaitu: Kakang Kawah (air ketuban sebagai saudara tertua), Adi Ari-Ari (plasenta sebagai saudara termuda), Getih (darah), dan Puser (tali plasenta/pusar). Yang kelima sebagai Pancer adalah Diri Kita Sendiri (ingsun).

Kakang Kawah disebut sebagai saudara tertua karena ia keluar lebih dahulu saat si jabang bayi dilahirkan ke alam dunia. Adi Ari-Ari disebut sebagai saudara termuda karena ia keluar belakangan setelah kita lahir di dunia ini. Dengan pemahaman ini yang menjadi alasan para leluhur Jawa menjalani tradisi mengubur ari-ari secara terhormat agar meraih kesempurnaan dalam menjalani tugasnya menghidupi dan menjaga si jabang bayi selama di alam rahim dalam kandungan ibu.

Lebih jauh lagi, salah satu tafsir menyatakan Sedulur Papat Lima Pancer terkait dengan lima elemen yang terdiri dari empat elemen pendukung dan satu elemen sebagai titik pusatnya. Empat elemen itu adalah: Tanah, Air, Api, dan Angin. Elemen kelima sebagai Pancer adalah Ruang (Akasha). Elemen Tanah, Air, Api, dan Angin selalu bergerak sesuai keadaan, namun semuanya berada dalam ruang kesadaran kita.

Kesadaran itu melandasi dan mencakup segalanya. Orang yang tidak berkesadaran adalah orang yang senantiasa memberontak, tidak mau tahu keadaan, dan memperlakukan alam dengan seenaknya. Mereka lupa bahwa keberadaan kita juga didukung oleh elemen-elemen di alam semesta yang berada di sekitar kita.

Sedulur Papat Lima Pancer Menurut Buddha, sesungguhnya tidak terinci, sebab dari perkembangannya ajaran jawa dijaman kejayaan Hindu dan Buddha menyatu terselaraskan dan itupun juga pada masa agama Islam dan Katolik masuk tradisi jawa ini juga menyatu dengan ajaran agama tersebut. Dalam ajaran Buddhisme terkait dengan Sedulur Papat Lima Pancer terinci dengan simbol warna spiritual :
- Putih dalam Buddhisme Maitreya, simbol paru-paru ilmu medis Tiongkok adalah logam dalam Taoisme, atau kebaikan dalam Konfusianisme, sama dengan sila dilarang membunuh dalam Buddhisme Sidharta Gautama, setiap orang berbuat sesuatu yang jahat maka nafasnya akan terengah atau tidak lancar. Warna Putih, melambangkan kematian dan kemurnian. Warna putih kadang digantikan dengan warna perak, dengan uang perak yang seringnya diberikan kepada orang yang sudah meninggal dunia dalam bentuk uang kertas sembahyang.
- Merah, simbol api, jantung, persaudaraan, sama dengan sila dilarang menipu, orang yang hatinya dingin mudah terserang penyakit jantung. Merah, warna merah melambangkan nasib baik dan beruntung. Warna merah dilarang sama sekali dalam upacara pengebumian kerana merah melambangkan kebahagiaan.
- Hitam, simbol air, ginjal, kesusilaan atau tahu aturan, sila dilarang berzinah. Orang yang mengumbar nafsu syahwat kelewat aturan/berlebih akan rusak ginjalnya. Hitam, warna hitam juga digunakan semasa upacara pengebumian untuk melambangkan perkabungan, suatu perkembangan yang dipengaruhi budaya barat, dengan reben hitam biasanya digantung pada gambar orang yang sudah meninggal dunia.
- Hijau, simbol kayu, kebijaksanaan, hati/lever, sila dilarang makan yang memabukkan, harfiahnya arak, termasuk pula harta, tahta, wanita. Tahu salah tapi sengaja melanggar akan menimbulkan racun dalam hati/lever,mengganggu metabolisme tubuh. Hijau, warna yang umumnya dikaitkan dengan kesehatan, kemakmuran, dan keharmonsian.
- Kuning, simbol tanah, lambung atau alat pencernaan, kepercayaan, sila dilarang berbohong. Orang yang tidak memelihara kepercayaan akan mengalami gangguan pada organ pencernaannya. Kuning/emas, warna kuning menghasilkan Yin dan Yang, merupakan pusat dari segala sesuatu. Kuning dianggap warna yang paling indah dan melambangkan netralisasi serta keberuntungan. Warna kuning sering dipasangkan dengan warna merah dan sebagai ganti warna emas. Warna kuning juga merupakan warna untuk gubah dan pakaian maharaja. Serta digunakan sebagai warna perkabungan dalam kalangan penganut agama Buddha Cina, khususnya untuk sami yang meninggal dunia.

Urutannya dalam falsafah Konfusianisme, manusia itu dasarnya baik, berkembang menjadi suka melihat orang lain gembira (persaudaraan), persaudaraan/pergaulan akan mengantar mengenal aturan hidup (tata susila), banyak tahu tata susila menjadi tahu benar-salah(bijaksana), memegang kebijaksanaan dalam hidupnya (dapat dipercaya).

Dan dari lima warna/unsur/organ/sifat baik manusia di atas, kuning/tanah/lambung, alat pencernaan/kepercayaan adalah yang utama sebagai gabungan empat sifat bajik yang lain. Dan hanya manusia makhluk yang sempurna tingkat dapat dipercayanya. Dalam ilmu ramal Bangsa Tionghoa, orang yang dalam dirinya memiliki unsur logam, kayu, air, dan kayu adalah stabil hidupnya, ataupun yang memiliki unsur tanah, terbaik adalah memiliki kelimanya walau amat jarang.

Perhitungan ini sesuai weton dalam perhitungan Bangsa Tionghoa, pula penyakit seperti saya sebutkan di atas dapat dijabarkan oleh ilmu pengobatan Tiongkok yang memegang kesatuan lima unsur di atas. Menilik semua sifat baik manusia dan sila pantangan diatas maka manusia diwajibkan bervegetarian, dan sesuai dengan sistem pencernaan manusia yang kompleks/panjang, makan daging akan membusuk sebelum dicerna sempurna/keluar dari pencernaan.

Hewan-hewan karnivora pendek saluran cernanya dan cepat membuang yang dimakan. Disebutkan pula tentang hubungan arah dan lima unsur, barat atau kebaikan, selatan atau persaudaraan, timur atau susila, utara atau kebijaksanaan. Dan kepercayaan di tengah, yaitu di diri kita mau tidak memegangnya. Barat adalah juga simbol asal kita nirvana, tempat kebaikan, timur adalah simbol dunia fana, yang berarti dunia ini harus mengikuti aturan agar berjalan lancar.

Ada sebuah ujar yang maknanya tersirat, pintu nirvana yang terbuka hanya pintu selatan, dengan kata lain, pupuklah sifat persaudaraan (baca:welas asih) agar dapat kembali ke asal. Leluhur Jawa memperlakukan Sedulur Papat sebagai makhluk tak kasatmata tidak bermakna bahwa empat elemen tersebut yang mendukung keberadaan manusia sebab kedudukanya dianggap setara dengan diri manusia.

Leluhur Jawa terkait Sedulur Papat bertujuan agar kita senantiasa eling (sadar) bahwa kita tak mungkin eksis tanpa empat elemen alam semesta. Oleh karenanya, kita mesti memperlakukan pendukung-pendukung keberadaan kita tersebut dengan layak. Manusia adalah Jagat Alit (Mikrokosmos), alam semesta adalah Jagat Ageng (Makrokosmos).

Apa yang ada di alam semesta sesungguhnya terkandung dalam diri kita selaku Jagat Alit. Sikap apa pun yang kita lakukan pada alam semesta akan berpengaruh pada diri kita sendiri. Ajaran yang adi luhung ini sungguh ajaran yang sangat luar biasa, walau sayang sudah banyak yang meninggalkannya di era modernisasi ini.

dari berbagai sumber